<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Resiko Menjadi Pekerja</title>
	<atom:link href="http://www.mmfaozi.com/resiko-menjadi-pekerja.html/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.mmfaozi.com/resiko-menjadi-pekerja.html</link>
	<description>Kewirausahaan &#38; Info Buat Pengusaha</description>
	<pubDate>Thu, 09 Sep 2010 00:29:34 +0000</pubDate>
			<item>
		<title>By: mmfaozi</title>
		<link>http://www.mmfaozi.com/resiko-menjadi-pekerja.html#comment-26</link>
		<dc:creator>mmfaozi</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Jun 2008 09:16:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.mmfaozi.com/?p=5#comment-26</guid>
		<description>Dari bahasa yang kamu ungkapkan, aku yakin, bahwa pada akhirnya kamu akan sanggup melewatinya.
Apa juga pernah mengalaminya, dan hampir semua orang sukses yang pernah aku temui dan teman-teman dekatku sendiri yang telah jadi pengusaha sukses, pernah mengalaminya.
Kejenuhan, ketidakpercayaan diri, rasa frustasi dan berbagai perasaan buruk lainnya, benar-benar sangat kuat aku rasakan.
Cara yang paling mudah biasanya adalah ketemu temen pengusaha yang telah sukses, yang enak untuk di ajak bicara (satu paradigma), yang kita bisa termotivasi darinya.
Jangan bicarakan masalah dan kegelisahan diri kita terhadap bisnis yang sedang kita bangun dengan orang-orang yang berbeda paradigma dengan kita, misalnya dengan para pekerja, sekalipun mereka telah sukses di dunia kerja. Karena cara pandang mereka yang berbeda akan sulit memahami masalah kita dan membuat kita semakin kehilangan semangat. Biarlah mereka tetap menjadi seorang sahabat, tetapi bukan untuk memecahkan masalah bisnis kita. 
Seringkali juga, dalam masa-masa seperti itu, kita merasa jadi pengangguran, karena  seakan-akan tidak ada yang bisa dikerjakan. Itu juga pernah dialami oleh banyak pengusaha sukses di awal-awalnya.
Perlahan-lahan, kita akan sampai di mana kita tidak punya lagi waktu luang karena begitu banyaknya kerjaan yang tiba-tiba datang, dan seakan-akan tidak pernah berhenti.
Perumpamaanya seperti orang yang memasak air, kalau suhunya belum 100 derajat maka air tetap belum mendidih, sekalipun sudah sampai 99 derajat. Padahal hanya kurang satu derajat. Itulah batas dimana air akan menjadi mendidih secara tiba-tiba ketika dinaikkan satu derajat menjadi 100 derajat. Seterusnya, akan terasa mudah dan nyaman bagi kita untuk terus menaikkannya menjadi 101, 105, 110, 150 atau 200 derajat, karena air yang sudah mendidih.
Kita tidak pernah tahu sampai di mana diri kita, barangkali kita sudah hampir sampai pada titik batas, barangkali kita sudah 95 derajat atau 99 derajat. Kita hanya perlu kembali melangkah dan menikmati "down" yang hinggap pada diri kita dan melewatinya.
Cara lain adalah mendekatkan diri pada Tuhan, sehingga ketenangan dan semangat untuk jadi orang yang bermanfaat akan selalu hadir dalam diri kita. Sehingga kita bisa selalu menikmati dan mensyukuri setiap moment kehidupan kita.
Terima kasih sudah mau berbagi, dan terimakasih telah memberi saya tentang pelajaran baru.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dari bahasa yang kamu ungkapkan, aku yakin, bahwa pada akhirnya kamu akan sanggup melewatinya.<br />
Apa juga pernah mengalaminya, dan hampir semua orang sukses yang pernah aku temui dan teman-teman dekatku sendiri yang telah jadi pengusaha sukses, pernah mengalaminya.<br />
Kejenuhan, ketidakpercayaan diri, rasa frustasi dan berbagai perasaan buruk lainnya, benar-benar sangat kuat aku rasakan.<br />
Cara yang paling mudah biasanya adalah ketemu temen pengusaha yang telah sukses, yang enak untuk di ajak bicara (satu paradigma), yang kita bisa termotivasi darinya.<br />
Jangan bicarakan masalah dan kegelisahan diri kita terhadap bisnis yang sedang kita bangun dengan orang-orang yang berbeda paradigma dengan kita, misalnya dengan para pekerja, sekalipun mereka telah sukses di dunia kerja. Karena cara pandang mereka yang berbeda akan sulit memahami masalah kita dan membuat kita semakin kehilangan semangat. Biarlah mereka tetap menjadi seorang sahabat, tetapi bukan untuk memecahkan masalah bisnis kita.<br />
Seringkali juga, dalam masa-masa seperti itu, kita merasa jadi pengangguran, karena  seakan-akan tidak ada yang bisa dikerjakan. Itu juga pernah dialami oleh banyak pengusaha sukses di awal-awalnya.<br />
Perlahan-lahan, kita akan sampai di mana kita tidak punya lagi waktu luang karena begitu banyaknya kerjaan yang tiba-tiba datang, dan seakan-akan tidak pernah berhenti.<br />
Perumpamaanya seperti orang yang memasak air, kalau suhunya belum 100 derajat maka air tetap belum mendidih, sekalipun sudah sampai 99 derajat. Padahal hanya kurang satu derajat. Itulah batas dimana air akan menjadi mendidih secara tiba-tiba ketika dinaikkan satu derajat menjadi 100 derajat. Seterusnya, akan terasa mudah dan nyaman bagi kita untuk terus menaikkannya menjadi 101, 105, 110, 150 atau 200 derajat, karena air yang sudah mendidih.<br />
Kita tidak pernah tahu sampai di mana diri kita, barangkali kita sudah hampir sampai pada titik batas, barangkali kita sudah 95 derajat atau 99 derajat. Kita hanya perlu kembali melangkah dan menikmati &#8220;down&#8221; yang hinggap pada diri kita dan melewatinya.<br />
Cara lain adalah mendekatkan diri pada Tuhan, sehingga ketenangan dan semangat untuk jadi orang yang bermanfaat akan selalu hadir dalam diri kita. Sehingga kita bisa selalu menikmati dan mensyukuri setiap moment kehidupan kita.<br />
Terima kasih sudah mau berbagi, dan terimakasih telah memberi saya tentang pelajaran baru.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: rizal akbar</title>
		<link>http://www.mmfaozi.com/resiko-menjadi-pekerja.html#comment-25</link>
		<dc:creator>rizal akbar</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Jun 2008 04:21:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.mmfaozi.com/?p=5#comment-25</guid>
		<description>Kalau baca artikel seperti ini rasanya semangat lagi untuk terus ber-”entrepreneur” (^_^)

tapi nggak tau kenapa kok rasanya beraaaaat sekali ya menjalani kehidupan sebagai entrepreneur…godaan untuk menyerah itu luar biasa…

Saya adalah entrepeneur, dan saat ini saya sedang benar-benar “down”….biasanya nggak butuh waktu lama untuk “up” lagi… tapi godaan &#38; cobaan kali ini paling berat, dan semakin lama semakin berat….

Salam untuk semua entrepeneur di luar sana….semoga tabah menghadapi berbagai cobaan yang menghujan…</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau baca artikel seperti ini rasanya semangat lagi untuk terus ber-”entrepreneur” (^_^)</p>
<p>tapi nggak tau kenapa kok rasanya beraaaaat sekali ya menjalani kehidupan sebagai entrepreneur…godaan untuk menyerah itu luar biasa…</p>
<p>Saya adalah entrepeneur, dan saat ini saya sedang benar-benar “down”….biasanya nggak butuh waktu lama untuk “up” lagi… tapi godaan &amp; cobaan kali ini paling berat, dan semakin lama semakin berat….</p>
<p>Salam untuk semua entrepeneur di luar sana….semoga tabah menghadapi berbagai cobaan yang menghujan…</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mmfaozi</title>
		<link>http://www.mmfaozi.com/resiko-menjadi-pekerja.html#comment-22</link>
		<dc:creator>mmfaozi</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 May 2008 02:00:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.mmfaozi.com/?p=5#comment-22</guid>
		<description>Siiplah....
Dengan senang hati aku akan selalu suka untuk berbagi.
Hanya minta maaf, kalau kadang-kadang terlambat membalsnya, mohon dimaklumi kalau pas lagi sibuk-sibuknya ngurusin eksspornya.
Dan tolong kasih masukan juga, tentang materi maupun gaya tulisanku, biar bisa semakin baik dalam menulis.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Siiplah&#8230;.<br />
Dengan senang hati aku akan selalu suka untuk berbagi.<br />
Hanya minta maaf, kalau kadang-kadang terlambat membalsnya, mohon dimaklumi kalau pas lagi sibuk-sibuknya ngurusin eksspornya.<br />
Dan tolong kasih masukan juga, tentang materi maupun gaya tulisanku, biar bisa semakin baik dalam menulis.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Moko-Bekasi</title>
		<link>http://www.mmfaozi.com/resiko-menjadi-pekerja.html#comment-21</link>
		<dc:creator>Moko-Bekasi</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 May 2008 11:01:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.mmfaozi.com/?p=5#comment-21</guid>
		<description>Wah, terima kasih atas bagi-bagi pengetahuannya. Enak ya kalo sudah bisa menerapkan yang demikian. Coba tak serap dulu ya Bang sebelum nanggapi/nanya lagi. Ga masalah kan kalau bolak-balik email..?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wah, terima kasih atas bagi-bagi pengetahuannya. Enak ya kalo sudah bisa menerapkan yang demikian. Coba tak serap dulu ya Bang sebelum nanggapi/nanya lagi. Ga masalah kan kalau bolak-balik email..?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mmfaozi</title>
		<link>http://www.mmfaozi.com/resiko-menjadi-pekerja.html#comment-20</link>
		<dc:creator>mmfaozi</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 May 2008 08:51:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.mmfaozi.com/?p=5#comment-20</guid>
		<description>Memang yang paling sulit dalam pelatihan skill adalah penempatan untuk lapangan pekerjaan. Apalagi di Indoensia lapangan pekerjaan masih sangat sempit, dengan pengangguran yang sangat tinggi.
Lowongan pekerjaan yang tidak pernah tertutup adalah menjadi pengusaha. So, pilihan berwirausaha adalah solusi yang paling tepat.
Aku minta maaf brother, belum tahu tentang MAISTER German. Kita cari sama-sama saja, siapa yang tahu paling cepat bisa bertukar informasi.
Trainingku sendiri, saya kembangkan berdasarkan prinsip pendidikannya Paulo Freire tentang Pendidikan yang membebaskan atau Pendidikan Kritis, melampaui metode pendidikan liberal. Mempunyai perbedaan yang cukup besar pada paradigma dan metodologinya.
Namun sudah saya kembangkan sendiri berdasar pengalaman dan sumber-sumber lainnya.
Metodologi training kewirausahaan (entrepreneurship) yang saya kembangkan dalam training  adalah Metodologi Pendidikan Dialogis Partisipatif. Di mana terjadi hubungan subject-subject (inter subjective) antara fasilitator (trainer) dengan peserta pendidikan. Peserta akan secara aktif terlibat dalam proses belajarnya mulai dari penyusunan harapan dan tujuan sampai bagaimana mencapai target dari sebuah training. Sebuah metodologi pendidikan yang dipengaruhi oleh paradigma pendidikan yang membebaskan. 
Metodologi pendidikan  tersebut, telah terbukti efektif mendorong perubahan dalam diri peserta pendidikan dalam  3 aspek pencapaian : pengetahuan (knowledge), ketrampilan/keahlian (skill) dan  motivasi/sikap/keinginan (attitude).
Ciri-ciri yang bisa membedakan :
1. Trainer adalah fasilitator dan kawan belajar bukan orang yang serba tahu. bukan peserta bertanya trainer menjawab.
2. Peserta training dianggap telah memliki kemampuan, bukan orang bodoh yang dianggap kosong.
3. Ada kesepakatan materi belajar antara trainer dengan peserta, atau sesuai dengan kebutuhan peserta. Bukan rekayasa materi yang dipaksakan kepada peserta. Di mana kerangka desain materi training dibuat setelah ada need assesment. 
4. Mendorong partisipasi aktif peserta, bukan trainer berbicara peserta mendengar.
5. Hubungan trainer dengan peserta adalah subyek-subyek, bukan subyek-obyek. Karena oyeknya adalah materi belajar dan peningkatan kemampuan lainnya. (sesuai target dan harapan).
6. Membahas atau menganalisa realita, bukan fenomena. Sehingga ditemukan masalah yang sesungguhnya.
7. Evaluasi sebagai bahan refleksi, bukan trainer menilai peserta maupun sebaliknya. Sehingga perubahan lahir dari kesadaran diri sendiri, bukan karena faktor luar.
8. Komunikasi 2 arah atau dialogis, bukan satu arah atau monologis.
Dari beberapa ciri di atas, mungkin sepintas sudah bisa diketahui perbedaannya.
Atau kau punya masukan lain???</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Memang yang paling sulit dalam pelatihan skill adalah penempatan untuk lapangan pekerjaan. Apalagi di Indoensia lapangan pekerjaan masih sangat sempit, dengan pengangguran yang sangat tinggi.<br />
Lowongan pekerjaan yang tidak pernah tertutup adalah menjadi pengusaha. So, pilihan berwirausaha adalah solusi yang paling tepat.<br />
Aku minta maaf brother, belum tahu tentang MAISTER German. Kita cari sama-sama saja, siapa yang tahu paling cepat bisa bertukar informasi.<br />
Trainingku sendiri, saya kembangkan berdasarkan prinsip pendidikannya Paulo Freire tentang Pendidikan yang membebaskan atau Pendidikan Kritis, melampaui metode pendidikan liberal. Mempunyai perbedaan yang cukup besar pada paradigma dan metodologinya.<br />
Namun sudah saya kembangkan sendiri berdasar pengalaman dan sumber-sumber lainnya.<br />
Metodologi training kewirausahaan (entrepreneurship) yang saya kembangkan dalam training  adalah Metodologi Pendidikan Dialogis Partisipatif. Di mana terjadi hubungan subject-subject (inter subjective) antara fasilitator (trainer) dengan peserta pendidikan. Peserta akan secara aktif terlibat dalam proses belajarnya mulai dari penyusunan harapan dan tujuan sampai bagaimana mencapai target dari sebuah training. Sebuah metodologi pendidikan yang dipengaruhi oleh paradigma pendidikan yang membebaskan.<br />
Metodologi pendidikan  tersebut, telah terbukti efektif mendorong perubahan dalam diri peserta pendidikan dalam  3 aspek pencapaian : pengetahuan (knowledge), ketrampilan/keahlian (skill) dan  motivasi/sikap/keinginan (attitude).<br />
Ciri-ciri yang bisa membedakan :<br />
1. Trainer adalah fasilitator dan kawan belajar bukan orang yang serba tahu. bukan peserta bertanya trainer menjawab.<br />
2. Peserta training dianggap telah memliki kemampuan, bukan orang bodoh yang dianggap kosong.<br />
3. Ada kesepakatan materi belajar antara trainer dengan peserta, atau sesuai dengan kebutuhan peserta. Bukan rekayasa materi yang dipaksakan kepada peserta. Di mana kerangka desain materi training dibuat setelah ada need assesment.<br />
4. Mendorong partisipasi aktif peserta, bukan trainer berbicara peserta mendengar.<br />
5. Hubungan trainer dengan peserta adalah subyek-subyek, bukan subyek-obyek. Karena oyeknya adalah materi belajar dan peningkatan kemampuan lainnya. (sesuai target dan harapan).<br />
6. Membahas atau menganalisa realita, bukan fenomena. Sehingga ditemukan masalah yang sesungguhnya.<br />
7. Evaluasi sebagai bahan refleksi, bukan trainer menilai peserta maupun sebaliknya. Sehingga perubahan lahir dari kesadaran diri sendiri, bukan karena faktor luar.<br />
8. Komunikasi 2 arah atau dialogis, bukan satu arah atau monologis.<br />
Dari beberapa ciri di atas, mungkin sepintas sudah bisa diketahui perbedaannya.<br />
Atau kau punya masukan lain???</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Moko - Bekasi</title>
		<link>http://www.mmfaozi.com/resiko-menjadi-pekerja.html#comment-19</link>
		<dc:creator>Moko - Bekasi</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 May 2008 11:06:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.mmfaozi.com/?p=5#comment-19</guid>
		<description>Dalam konsep Three in One (Pelatihan, Sertifikasi, dan Penempatan) sebagai agenda utama Nakertrans. Agenda terakhir, penempatan, adalah yang paling sulit dilakukan. Menjadi ide briliant untuk melakukan kewirausahaan. Baru sebatas "mendengar" tentang metodologi belajar ala "MAISTER" German. Yang sedang dikaji penerapannya. Kabarnya, MAISTER mencetak manusia "sempurna" yang bisa menguasai persoalan teknis persoalan produksi, manajemen, sampai akuntansi, serta mentalitas bikin usaha, bukan bekerja. Cuman aku kehilangan jejak informasi detailnya. barangkali Mr. Faozi bisa memberi perbandingan metode belajar/pelatihan yang demikian. Demi perkembangan masa depan anak bangsa menjadi mandiri yang dibangun lewat edukasi/training. Moga tulisannya bisa cepat, supaya ga ketinggalan issue. Thank You Brother:)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam konsep Three in One (Pelatihan, Sertifikasi, dan Penempatan) sebagai agenda utama Nakertrans. Agenda terakhir, penempatan, adalah yang paling sulit dilakukan. Menjadi ide briliant untuk melakukan kewirausahaan. Baru sebatas &#8220;mendengar&#8221; tentang metodologi belajar ala &#8220;MAISTER&#8221; German. Yang sedang dikaji penerapannya. Kabarnya, MAISTER mencetak manusia &#8220;sempurna&#8221; yang bisa menguasai persoalan teknis persoalan produksi, manajemen, sampai akuntansi, serta mentalitas bikin usaha, bukan bekerja. Cuman aku kehilangan jejak informasi detailnya. barangkali Mr. Faozi bisa memberi perbandingan metode belajar/pelatihan yang demikian. Demi perkembangan masa depan anak bangsa menjadi mandiri yang dibangun lewat edukasi/training. Moga tulisannya bisa cepat, supaya ga ketinggalan issue. Thank You Brother:)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mmfaozi</title>
		<link>http://www.mmfaozi.com/resiko-menjadi-pekerja.html#comment-17</link>
		<dc:creator>mmfaozi</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 May 2008 00:26:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.mmfaozi.com/?p=5#comment-17</guid>
		<description>Begitu salah satu ciri paradigma pekerja. Coba lihat ke sekeliling kita, teman atau saudara kita yang menjadi pegawai dengan gaji yang cukup tinggi. Maka kebiasaan konsumtif begitu terlihat.
Dan biasanya membeli rumah di anggap sebuah investasi, padahal seringkali belum tentu benar.
Coba kita hitung, bila kita beli rumah dengan harga sekarang sebesar Rp 100 juta. Dengan inflasi tiap tahun 6 % (kalau BBM naik inflasi bisa di atas 10 %) maka sudah seharusnya harga jual rumah sudah pasti harus meningkat di atas inflasi setia tahunnya. Setahun setidaknya harus naik 6 %. jadi tahun berikutnya harus di jual setidaknya 106 juta, itupun baru impas, masih minus pembayaran pajak dan perawatan. dan lain-lain.
Kecuali kalau rumah itu kita buat untuk bisnis.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Begitu salah satu ciri paradigma pekerja. Coba lihat ke sekeliling kita, teman atau saudara kita yang menjadi pegawai dengan gaji yang cukup tinggi. Maka kebiasaan konsumtif begitu terlihat.<br />
Dan biasanya membeli rumah di anggap sebuah investasi, padahal seringkali belum tentu benar.<br />
Coba kita hitung, bila kita beli rumah dengan harga sekarang sebesar Rp 100 juta. Dengan inflasi tiap tahun 6 % (kalau BBM naik inflasi bisa di atas 10 %) maka sudah seharusnya harga jual rumah sudah pasti harus meningkat di atas inflasi setia tahunnya. Setahun setidaknya harus naik 6 %. jadi tahun berikutnya harus di jual setidaknya 106 juta, itupun baru impas, masih minus pembayaran pajak dan perawatan. dan lain-lain.<br />
Kecuali kalau rumah itu kita buat untuk bisnis.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Fauzi</title>
		<link>http://www.mmfaozi.com/resiko-menjadi-pekerja.html#comment-11</link>
		<dc:creator>Fauzi</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 May 2008 01:34:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.mmfaozi.com/?p=5#comment-11</guid>
		<description>waduh, sangar banget.... tp anehnya koq beli rumah ato nyicil rumah terus yah pola pikirnya???
tidak pernah mikir naik haji.... hehehehe</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>waduh, sangar banget&#8230;. tp anehnya koq beli rumah ato nyicil rumah terus yah pola pikirnya???<br />
tidak pernah mikir naik haji&#8230;. hehehehe</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Zaenal</title>
		<link>http://www.mmfaozi.com/resiko-menjadi-pekerja.html#comment-10</link>
		<dc:creator>Zaenal</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 May 2008 01:13:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.mmfaozi.com/?p=5#comment-10</guid>
		<description>Enak nya ngopo yo?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Enak nya ngopo yo?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mmfaozi</title>
		<link>http://www.mmfaozi.com/resiko-menjadi-pekerja.html#comment-9</link>
		<dc:creator>mmfaozi</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 19 Apr 2008 10:23:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.mmfaozi.com/?p=5#comment-9</guid>
		<description>oo.. I see :grin:</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>oo.. I see <img src='http://www.mmfaozi.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':grin:' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
